Peran Pendidikan Pesantren dalam Membentuk Karakter Santri yang Beretika di Era Media Sosial (Studi Kasus: Dayah Nurul Ihsan)
(STUDI KASUS: DAYAH NURUL IHSAN)
DOI:
https://doi.org/10.47662/hibrululama.v8i1.1421Keywords:
Pendidikan Pesantren, Karakter Santri, Etika Media Sosial.Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya pengaruh negatif media sosial terhadap perilaku dan karakter remaja, khususnya santri yang mengalami perubahan sikap signifikan setelah masa liburan akibat paparan konten digital yang tidak terkontrol. Dayah Nurul Ihsan sebagai lembaga pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan nyata untuk mempertahankan karakter santri yang beretika di tengah derasnya arus media sosial. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan peran pendidikan Dayah Nurul Ihsan dalam membentuk karakter santri yang beretika di era media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pimpinan dayah, ustaz dan ustazah pengajar, serta santri. Teknik analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014) yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dayah Nurul Ihsan menjalankan peran strategis dalam membentuk karakter santri yang beretika di era media sosial melalui empat fungsi utama, yaitu sebagai pendidik, pembimbing, fasilitator, dan evaluator yang berjalan secara sinergis dalam sistem kehidupan komunal dua puluh empat jam; (2) metode yang digunakan meliputi keteladanan (uswah hasanah) yang efektif mengatasi FOMO santri, pembiasaan (ta'w?d) melalui Muhasabah Digital dan Diskusi Berita Kritis yang berhasil membentuk kebiasaan tabayyun dan berpikir kritis, serta pengajaran kitab adab dengan kontekstualisasi digital yang menjembatani kesenjangan antara pemahaman keagamaan teoritis dan perilaku digital santri; (3) faktor pendukung meliputi sistem kehidupan komunal dua puluh empat jam, kekuatan tradisi kitab kuning, dukungan orang tua, dan motivasi internal santri, sedangkan faktor penghambat meliputi derasnya pengaruh media sosial pada masa liburan, keterbatasan pengawasan di luar dayah, ketidakselarasan lingkungan keluarga, dan FOMO santri usia 14–16 tahun.


