PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK CMA DAN PUPUK KASCING TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI (Glycine max L merril)
DOI:
https://doi.org/10.47662/alulum.v14i2.1369Keywords:
CMA, Soybeans, Vermicompost FertilizerAbstract
Kedelai merupakan komoditas terpenting setelah padi dan jagung karena kaya protein nabati yang diperlukan untuk peningkatan gizi masyarakat. Protein nabati ini selain aman bagi kesehatan juga relatif murah dibandingkan sumber protein hewani.Upaya meningkatkan produktivitas tanaman kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) dapat dilakukan dengan teknik budidaya yang tepat. Salah satu dari teknik budidaya yang tepat yaitu dengan melakukan pemenuhan kebutuhan unsur hara tanaman melalui pemupukan baik menggunakan bahan organik maupun bahan anorganik. Tujuan Penelitian adalah Untuk mengetahui pengaruh pupuk CMA dan Pupuk kascing terhadap pertumbuhan tanaman kedelai. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Pertanian UPMI Medan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari 2 (dua) faktor perlakuan.Faktor pertama yaitu dosis pupuk CMA (C) terdiri dari 4 taraf yaitu : C0= Kontrol (tanpa penggunaan pupuk CMA), C1= pupuk CMA pada dosis 10 gr/tan, C2= pupuk CMA pada dosis 20 gr/tan, C3= pupuk CMA pada dosis 30 gr/tan .Faktor kedua yaitu dosis pupuk kascing (K) terdiri dari 4 taraf yaitu :K0= Kontrol (tanpa penggunaan pupuk kascing),K1 = pupuk kascing pada dosis 5 kg/plot, K2= pupuk kascing pada dosis 10 kg/plot, K3 = pupuk kascing pada dosis 15kg/plot. Hasil penelitian menunjukkan Penggunaan CMA (C) dan Pupuk Kascing (K) berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang. Perlakuan terbaik terdapat pada C3K3, dosis CMA 30 gr/tan, dan dosis kascing 15 kg/plot.
References
Adisarwanto, T. 2008. Budidaya Kedelai Tropika. Penebar Swadaya. Jakarta. 76 hal.
Afandi, M., L. Mawardi, dan Syukri. 2013. Respon Pertumbuhan dan Produksi Empat Varietas Kedelai Terhadap Tingkat Naungan. Jurnal online Agroekoteknologi, 1(2): 214-226.
Anugrah, H. Y., R. Nini dan Y. Hasanah. 2012. Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas Kedelai (Glycine Max L. Merrill.) Pada Berbagai Kondisi Air Tanah. Jurnal Online Agroteknologi, 1 (1): 91-98
Bewley, J. D. and M. Black. 1978. Physiology and biochemistry ofseeds in relation to germination. Vol. I: Development, Germination and Growth. Springer-Verlag. Berlin-Heydelberg-New York.
Board J (1987). Yield Components Related to Seed Yield in Determinate Soybean. Crop Sci, 27: 1296.
Budi, G. P dan O. D. Hajoeningtijas. 2009. Kemampuan Kompetisi beberapa Varietas Kedelai (Glycine Max) Terhadap Gulma Alang-Alang (Imperata Cylindrica) Dan Teki (Cyperus Rotundus). Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, 7(2): 129-130.
Cho JW, Park GS, Yamakawa T, Ohga S (2005). Comparison Of Yield In Korean Small Seed Soybean Cultivars With Main Stem And Branch Production. J. Fac. Agr. Kyushu. U, 50: 511-519.
Edwards, Jr. C. J. and E.E. Hartwig. 1971. Effect Of Seed Size Upon Rate Of Germination In Soybean. Agron. J, 6 (3) : 429-430
Fachrudin, L. 2000. Budidaya Kacang-Kacangan. Kanisius. Yogyakarta. 118 hal.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, R.L. Mitchel. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit UI Press, Jakarta. 428 hal
Green-Tracewicz E, Page E, Swanton C (2010). Shade avoidance in soybean reduces branching and increases plant-to-plant variability in biomass and yield per plant. Weed Sci, 59: 43-49.
Gustianto. 2010. Tampilan Sifat Vegetatif dan Komponen Hasil Berbagai Genotipe (Glycine max L. Merr). Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pekanbaru.
Hanafiah, A., M. Lainsamputty, dan S. R. Sihombing. 2000. Teknologi Produksi Benih Kedelai. Departemen Pertanian Badan penelitian dan pengembangan Pertanian Irian Jaya. 22 hal.
Hidayat, R. 2012. Mewujudkan swasembada kedelai. Artikel. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat. http://www.suaramerdeka.com. Diakses 10 April 2013.
Hobbs, P. R and R. L. Obendorf. 1972. Interaction ofinitial seed moisture and imhibitional temperature on germination and productivity of soybean. Crop Sci, 12: 664-667
Husnayati, N. 2011. Pengaruh tingkat kemasakan benih dan periode simpan terhadap viabilitas dan vigor benih kacang bogor (Vigna subterranea (l). verdc.) pada ruang simpan ac dan kamar. Skripsi. Fakultas Pertanian IPB
Irwan, W. A. 2006. Budidaya tanaman kedelai. Prosiding. Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor. 1- 43 hal.
Justice, O. L. dan L. N. Bass. 1990. Prinsip dan Praktek Penyimpanan Benih. Terjemahan Roeli, R. Rajawali Press. Jakarta. 446 hal.
Kamil, J. 1982. Teknologi Benih I. Angkasa, Eandung. 227 hal
Kartika, E dan S. Ilyas. 1994. Pengaruh Tingkat Kemasakan Benih dan Metode Konservasi Terhadap Vigor Benih dan Vigor Kacang Jogo (Phoseolus vulgaris L.). Jurnal Bul. Agron, 22(2): 44-59.
Kasim, H., Djunainah (penyusun). 1993. Deskripsi Varietas Unggul Palawija 1918 – 1992. Puslitbang Tanaman Pangan. Bogor. 155 hal.
Kisman. 2010. Karakter Morfologi Sebagai Penciri Adaptasi Kedelai Terhadap Cekaman Kekeringan. Jurnal Agroteksos, 20 (1): 23-29
Kriswantoro, H., N. Murniati, M. Ghulamahdi, dan K. Agustina. 2012. Uji adaptasi varietas kedelai di lahan kering kabupaten musi rawas Sumatra selatan. In Prosiding Simposium dan Seminar Bersama PERAGI- PERHORTI-PERIPI-HIGI mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi yang Berkelanjutan.
Mattjik, A. A. dan I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. IPB Press. Bogor. 276 hal.
Mapegau. 2006. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max L. Merrill.). Jurnal Ilmiah Pertanian Kultura, 41 (1): 43-51
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Yelfi Yana Linda Br Jabat, Miyarnis Miyarnis, Mukti Hakim

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





